PONTIANAK, SP – Masih subuh, tetesan embum membasahi sebagian pucuk dedaunan di Komplek Perum 3 Jeruju , Pontianak Barat.
Tampak sosok perempuan sederhana dengan bakul jamu di punggungnya, yang masih setia menyusuri jalan-jalan komplek perumahan tersebut.
Warga mengenalnya dengan panggilan akrab “Yuji”. Nama lengkapnya Ayu Jirah, perempuan perantauan asal Wonogiri yang telah belasan tahun menjaga warisan tradisi leluhur melalui jamu gendong.
Tatkala pagi belum sepenuhnya terang, ketika Yuji mulai menyiapkan racikan rempah di rumah kontrakannya.
Aroma kunyit, jahe, temulawak, kencur, hingga serai memenuhi dapur kecil yang menjadi ruang perjuangannya mencari nafkah.
Dengan ketelatenan khas perempuan Jawa, satu per satu bahan direbus, disaring, lalu dimasukkan ke dalam botol-botol sederhana yang nantinya dibawa berkeliling dari gang ke gang.
Bakul yang digendong di punggungnya bukan sekadar wadah minuman tradisional. Yuji menjaga tradisi leluhur di tengah derasnya arus minuman modern dan gaya hidup serba instan.
Di dalamnya tersimpan cerita tentang ketahanan hidup, budaya, dan perjuangan seorang ibu mempertahankan identitas jamu di tengah zaman yang terus berubah.
“Sudah belasan tahun saya jualan jamu di Pontianak Barat ini. Alhamdulillah masih banyak pelanggan yang percaya jamu tradisional,” ujar Yuji sambil tersenyum kepada pembeli di salah satu komplek perumahan.
Setiap hari, Yuji berjalan kaki menyusuri sejumlah kawasan perumahan di Pontianak Barat.
Warga sudah hafal suara khasnya ketika menawarkan jamu. Sebagian pelanggan bahkan menganggap kehadirannya sebagai bagian dari rutinitas pagi yang dirindukan.
Beragam jenis jamu ia jual, mulai dari beras kencur, kunyit asam, pahitan, hingga wedang jahe.
Menurutnya, minuman herbal tradisional tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat karena dipercaya membantu menjaga stamina dan kesehatan tubuh.
Di balik kesederhanaannya, Yuji ternyata juga mulai beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Dukungan pembiayaan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) membantunya mempertahankan usaha kecil yang telah lama ia jalani.
Melalui akses permodalan tersebut, Yuji dapat membeli bahan baku rempah dalam jumlah lebih besar, memperbaiki perlengkapan usaha, hingga menambah variasi dagangan.
Baginya, bantuan permodalan bukan hanya soal uang, tetapi juga bentuk kepercayaan kepada pelaku usaha kecil tradisional.
“Kalau ada tambahan modal, saya bisa beli rempah lebih banyak dan kualitasnya bagus. Pembeli juga senang karena jamunya tetap segar,” tuturnya.
Kisah Yuji menjadi gambaran nyata bagaimana usaha mikro tradisional tetap mampu bertahan di tengah persaingan modernisasi.
Ia tidak hanya menjual minuman herbal, tetapi juga membawa nilai budaya Nusantara yang diwariskan turun-temurun.
Di banyak kota besar, keberadaan penjual jamu gendong perlahan mulai berkurang.
Namun di Pontianak, Yuji tetap melangkah dengan semangat yang sama seperti ketika pertama kali datang merantau dari Wonogiri bertahun-tahun silam.
Peluh yang jatuh di sepanjang jalan komplek perumahan itu menjadi saksi bahwa tradisi tidak selalu dijaga di ruang-ruang besar atau seremoni kebudayaan.
Kadang, tradisi bertahan lewat langkah kaki seorang perempuan sederhana yang setia menggendong rempah dari rumah ke rumah.
“Kalau minum jamu itu badan terasa lebih segar,” ujar Yuji sambil menuangkan jamu ke dalam gelas plastik.
Baginya, jamu bukan hanya minuman tradisional, melainkan bagian dari budaya yang harus terus diwariskan kepada generasi muda.
Bagi warga Pontianak Barat, Yuji bukan sekadar penjual jamu. Ia adalah pengingat bahwa warisan leluhur masih hidup, masih diminum, dan masih dijaga dengan penuh cinta di tengah kehidupan kota yang terus bergerak cepat.
Di antara pelanggan setianya, ada sosok Kak Atun yang hampir setiap minggu datang bersama keluarganya membeli jamu racikan Yuji.
Menurut Kak Atun, kebiasaan mengonsumsi jamu sudah menjadi bagian dari gaya hidup sehat keluarganya.
“Kami sekeluarga memang rutin beli jamu di Bang Yuji. Rasanya enak dan bikin badan lebih sehat,” tutur Kak Atun.
Ia mengaku percaya bahwa bahan-bahan alami dalam jamu membantu menjaga daya tahan tubuh, terlebih di tengah aktivitas sehari-hari yang padat.
Tak jarang, Kak Atun datang membawa anak-anaknya agar mereka juga mengenal minuman tradisional sejak dini.
Baginya, kebiasaan minum jamu adalah cara sederhana menjaga kesehatan sekaligus melestarikan budaya lokal.
Di tengah maraknya minuman modern dan tren kesehatan instan, keberadaan Yuji menjadi pengingat bahwa tradisi lama belum hilang.
Justru di tangan orang-orang seperti dirinya, warisan leluhur tetap hidup, tetap diminum, dan tetap dijaga dengan penuh cinta oleh masyarakat kota.
Bagi warga Pontianak Barat, segelas jamu dari Yuji bukan sekadar minuman. Ia adalah rasa hangat, kenangan, dan keyakinan bahwa kesehatan bisa dirawat dari resep tradisional yang diwariskan turun-temurun. (aep mulyanto)